Home

Selasa, 03 April 2012

KONSELING EGO


KONSELING EGO
(Adler, Jung, Fromm)



A.    Pandangan Tentang Manusia
1.   Manusia tidak sekedar terikat pada dorongan instinktifnya, melainkan dipengaruhi oleh lingkungannya.
2.   Mengutamakan fungsi ego yang merupakan energi psikologikal individu, meskipun masih mengakui adanya id, ego dan superego.

B.    Kepribadian
1.   Perkembangan Kepribadian
a.    Kepribadian merupakan produk dari berbagai faktor dalam waktu yang cukup lama


b.   Perkembangan Psikososial Erikson:

No
Ego yang kuat
Ego yang kurang kuat
1
Trust
Mistrust
2
Autonomy
Shame and doubt
3
Initiative
Guilt
4
Industry
Inferiority
5
Ego Identity
Role confusion
6
Intimacy
Isolation
7
Generality
Stagnation
8
Integrity
Despair

c.    Ego berkembang atas kekuatannya sendiri, tidak tergantung pada energi id.

d.   Pertumbuhan ego yang normal merupakan perkembangan kemampuan komunikasi pada anak:
1)   Deferensiasi
2)   Berkembang melalui hubungan dengan lingkungan
3)   Coping Ability (CA) melalui:
a)    Pola-pola baru tingkah laku
b)   Usaha sadar yang akan menjadi otomatis

e.    Pola dasar tingkah laku terbentuk pada masa enam tahun pertama (entama).

2.   Fungsi ego : dibandingkan dengan teori psikoanalisis klasik, disini fungsi ego lebih positif yaitu berhubungan dengan lingkungan melalui cara-cara rasional dan sadar.

3.   Tiga kategori fungsi ego:
a.    Impulse economics (imec), kemampuan ego untuk tidak hanya mengotrol dorongan-dorongan, tetapi menyalur-kannya ke arah tingkah laku yang lebih dapat diterima dan berguna.
b.   Cognitive function (cogfun), kemampuan ego untuk menganalisis dan berpikir logis mengatasi perasaan --- ini merupakan kemampuan ego yang bebas dari pengaruh id.
c.    Controlling function (confun), kemampuan ego untuk memutuskan usaha penyelesaian tugas tanpa diganggu oleh perasaan.

C.    Kasus
1.   Apabila individu tertekan oleh keadaan yang menimpanya dan ego kehilangan kontrol, maka kontrol terhadap tingkah laku beralih dari kesadaran ke ketidaksadaran --- kontrol beralih dari ego ke id.

2.   Tingkah Laku Salah Suai (TLSS)
a.    Individu kurang mampu merespon dengan cara yang layak
b.   Pola tingkah laku yang dimiliki tidak lagi cocok dengan tuntutan lingkungan (situasi)
c.    Rusaknya fungsi ego.

3.   Individu abnormal adalah individu yang tingkah lakunya tidak berubah dalam menghadapi tuntutan diri sendiri ataupun lingkungan yang berubah.

D.    Tujuan
1.   Keseluruhan pribadi harus diarahkan untuk berubah, kalau klien mau dibantu.

2.   Konselor membantu klien memperbaiki satu dua fungsi ego yang rusak sehingga menimbulkan kesulitan bagi klien

3.   Tujuan utama konseling ialah membantu klien membangun identitas ego, memperluas dan memperkuat berfungsinya sistem ego pada diri klien.


E.    Teknik
1.   Lebih memusatkan pada ciri-ciri individu yang normal dan sadar, daripada mengungkapkan motif-motif tidak disadari yang melatarbelakangi tingkah laku klien.

2.   Lebih terpusat pada:
a.    Ranah kognitif daripada konatif.
b.   Tingkah laku sekarang daripada yang sudah berlalu
c.    Hubungan klien dengan situasi nyata yang menyebabkan kesulitan.

3.   Membantu klien memahami bagaimana tingkah lakunya selama ini tidak fungsional dalam menghadapi situasi dan bagaimana ia membangun tingkah laku baru untuk mengubah situasi yang dihadapinya.

4.   Konselor:
a.    Hangat dan spontan
b.   Professional
c.    Bekerja dengan individu normal yang mengalami masalah khusus, dalam waktu yang relatif singkat (sekitar 5-6 sesi).

5.   Teknik: teknik yang dipakai tidak kaku, melainkan luwes sesuai dengan hak klien untuk menjadi dirinya sendiri:
a.    Pengawalan: membina hubungan antara klien dan konselor.

b.   Pengontrolan proses:
1)   Memusatkan kegiatan pada tugas membangun ego strength klien
2)   Mengontrol keseimbangan antara ekspresi klien yang bersifat kognitif maupun konatif (emosi) ---tetapi proses konseling tetap menekankan dimensi kognitif.
3)   Mengontrol ambiguitas dalam proses konseling, untuk:
a)    Mengkontraskan perasaan
b)   Menampilkan keunikan pribadi klien
c)    Membangun transferensi melalui proyeksi

c.    Transferensi (trans), tidak seperti pada psikoanalisis klasik, dalam ego konseling transferensi dimaksudkan sebagai perasaan klien yang timbul terhadap konselor.

d.   Counter transference (konstrans), upaya konselor untuk mencegah munculnya perasaan terhadap klien dan mempengaruhi proses konseling.

e.    Diagnosis dan interpretasi, konselor bertanggungjawab merumuskan dan mendiagnosis masalah, serta memberikan kesempatan kepada klien untuk memahami masalah-masalahnya itu.

f.     Apabila klien sudah mulai menyadari masalahnya, proses konseling diarahkan ke pembentukan tingkah laku baru:
1)   Konselor mengajarkan cara-cara baru
2)   Klien dilatih
3)   Mempergunakan tugas rumah yang harus dikerjakan klien.
Semua itu untuk memperkuat ego yang dapat berfungsi lebih tepat.

Rujukan:

Prayitno. 1998. Konseling Pancawaskita: Kerangka Konseling Eklektik. Padang: UNP Press.

--- Salam Kopasta ---

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan bergabung ke MEMBERS CCI untuk dapat meninggalkan komentar sahabat.Terima Kasih!