Home

Rabu, 04 April 2012

KONSELING PSIKOLOGI INDIVIDUAL


KONSELING PSIKOLOGI INDIVIDUAL
(Adler)




A.    Pandangan Tentang Manusia
1.    Manusia tidak semata-mata bertujuan memuaskan dorongan-dorongannya, tetapi secara jelas juga termotivasi untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan pemenuhan kebutuhan untuk mencapai susuatu.

2. Tingkah laku individu ditentukan oleh: lingkungan, pembawaan, dan individu itu sendiri.


3. Tingkah laku tidak ditentukan oleh kejadian yang diluar individu, melainkan oleh bagaimana individu mempersepsi dan meng-interpretasikan kejadian itu:
a.    Persepsi dan interpretasi itu membentuk fiksi yang menjadi tujuan bagi tingkah laku individu --- fictional goal (fg).
b.  Life goal (lg): fictional goal menjadi arah dari tingkah laku individu untuk mengatasi kelemahannya dalam menghadapi dunianya. --- fictional goal menjadi life goal.
c.   Life style (ls): life goal yang menjadi arah tingkah laku itu lebih jauh akan membentuk life style.
d. Social interest (si): manusia dilahirkan sebagai makhluk social dan adapun yang dilakukannya selalu dalam hubungannya dengan kelompok social.

B.    Kepribadian
1.    Perkembangan Kepribadian
a.    Dasar kepribadian terbentuk pada usia empat – lima tahun pertama.
b.    Pada awalnya manusia dilahirkan dengan feeling of inferiority (foi) yang selanjutnya menjadi dorongan bagi perjuangannya kea rah feeling of superiority (fos).
c.    Anak-anak menghadapi lingkungannya dengan kemampuan dasarnya dan menginterpretasikan lingkungannya itu dan pada saat itu juga social interest-nya juga berkembang.
d. Selanjutnya terbentuklah life style yang unik pada masing-masing individu --- human individuality yang bersifat: self-deterministik, teleologis, dan holistic.
e.   Sekali terbentuk life style sukar untuk berubah; perubahannya akan membawa kepedihan.

2. Individu sukar menyadari sepenuhnya life style-nya sendiri, untuk menjelaskannya biasanya diperlukan orang lain.

C.    Kasus
  1. Sebab utama Tingkah Laku Salah Suai (TLSS) adalah perasaan feeling of inferiority yang amat sangat, yang ditimbulkan oleh:  a.  Cacat mental atau fisik,b.  Penganiayaan oleh orangtua, dan  c.   Penelantaran. Apabila ketiga hal tersebut dibesar-besarkan maka feeling of inferiority akan semakin berkembang.
  2. Tingkah Laku Salah Suai (TLSS) adalah hasil dari pengaruh lingkungan,                                 yang pada umumnya berawal dari tingkah laku orang tua sewaktu anak masih kecil, demikian juga anak-anak yang ditelantarkan.
  3. Apabila pada diri anak berkembang situasi tegang karena memuncaknya    perasaan feeling of inferiority, maka tingkah laku abnormal akan berkembang:
a.    Upaya mengejar superioritas yang berlebihan:
1)     terlalu keras sehingga menjadi kaku dan
2)     perfeksionistik yang tidak wajar.
b.    Social Interest terganggu:
1)     hubungan social tidak menyenangkan dan
2)     selfish, mengisolasi diri.

D.    Tujuan
1.    Membantu klien mengubah konsep tentang diri sendiri:
a.    Menstrukstur dan menyadari life style klien
b. Mengurangi penilaian negatif tentang diri sendiri dan perasaan inferiornya.

2.  Mengoreksi persepsi klien tentang lingkungannya dan mengembangkan tujuan-tujuan baru yang hendak dicapai melalui tingkah laku baru klien, kemudian membangun kembali Social Interest-nya.

E.    Teknik
1.  Membangun hubungan yang baik antara klien dengan konselor, jangan sampai klien takut --- social interest:
a.    Konselor mampu berkomunikasi dengan baik
b.    Objektif
c.    Mampu mendengarkan dengan baik.

2.    Tiga tahap dalam proses konseling:
a.    Mengembangkan pemahaman tentang life goal dan life style klien
b. Menginterpretasikan tingkah laku klien sehingga klien menyadari bagaimana tujuan-tujuan (yang termuat di dalam tingkah lakunya itu) menimbulkan gangguan atau kesulitan.
c.  Apabila klien sudah menyadarinya, dikembangkanlah social interest klien.
  
3.    Teknik Koseling
a.    Analisi Life Style
1) Memahami cacat fisik dan mental, penganiayaan dan/ atau penelantaran yang pernah dialami.
2)    Memahami tingkah laku klien (berkenaan dengan point 1)
3)    Memahami pola asuh orangtua dimana klien dibesarkan.
4)    Interpretasi yang tajam --- (hubungan antara point 1, 2 dan 3)

b.    Interpretasi early recollections (er)
Konsleor mendiskusikan dengan klien ingatan/ kenangan klien dimasa lalu, pada masa sebelum umur 10 tahun. Berbagai kejadian dan perasaan terhadap kejadian-kejadian itu diungkapkan. Hasilnya akan memberikan gambaran tentang bagaimana klien memandang diri sendiri, orang lain, dan life style-nya sendiri.

c.    Interpretasi
Setelah klien menyadari berbagai hal tentang dirinya, kemudian diarahkan klien menyadari “kesalahan-kesalahan yang mendasar” dalam menjalani hidupnya. Selanjutnya dikembangkan pemahaman-pemahaman baru untuk meng-hadapi hidup. Untuk itu klien perlu didorong, dibangkitkan keberaniannya untuk menghadapi kehidupan-nya dengan cara-cara baru yang lebih efektif dan membahagiakan.


Rujukan:

Prayitno. 1998. Konseling Pancawaskita: Kerangka Konseling Eklektik. Padang: UNP Press.

--- Salam Kopasta ---







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan bergabung ke MEMBERS CCI untuk dapat meninggalkan komentar sahabat.Terima Kasih!