Home

Sabtu, 22 Maret 2014

Seputar Masalah Pelajar (SMP)

SMP (Seputar  Masalah  Pelajar)

Oleh: Hengki Yandri

Sumber Gambar: http://www.nyunyu.com
Richar adalah seorang pelajar yang termasuk pada kategori anak orang kaya dan sekolah di sebuah SMA ternama di kota Padang yang duduk di bangku kelas XII. Semua kebutuhan yang diinginkannya selalu dituruti dan dipenuhi oleh orangtuanya karena Richar anak satu-satunya di keluarga dan hal ini membuat orangtuanya memanjakannya. Sepulang sekolah Ricahar langsung bermain Lay station, terkadang pergi rental band bersama teman-temannya, karaoke, balap mobil dan banyak lagi kegiatannya yang mengarah kepada kesenangan sesaat. Setiap tugas sekolah selalu di kerjakan oleh temannya dan saat ujian Richar pun suka menyontek.

Dari penggalan cerita di atas, apa yang bisa kita simpulkan tentang Richar? Banyak hal bisa kita simpulkan dari cerita Richar, salah satunya yaitu Richar menyia-nyiakan waktu belajarnya, suka menyontek, suka hura-hura, dan sebagainya, bahkan bisa dikatakan bahwa Richar tidak tahu apa efek jangka panjangnya terhadap kebiasaannya seperti itu. Jika kita analisis kebiasaan Richar, akankah ia akan sukses di masa depan? Mungkin kita sepakat jawabnya tidak, karena tidak akan mungkin kita bisa sukses jika kita hanya hura-hura menghabiskan uang orang tua kita dan tidak pernah berusaha untuk menggapai kesuksesan. Untuk itu, mari kita bahas materi tentang “SMP” (Seputar Masalah Pelajar)”
Menjalani kehidupan menjadi seorang pelajaran merupakan pengalaman paling berharga dalam hidup ini, karena tidak semua orang bisa menuntut ilmu di bangku sekolah, sehingga kita perlu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kita kesempatan untuk tidak menjadi orang-orang yang jahiliah tanpa ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mustika dan Firdaus (2006) bahwa pelajar adalah harta kekayaan yang paling berharga di dunia. Mereka adalah pejuang, pembaharu bahkan pemimpin dunia. Jika para pelajar rusak maka dunia akan rusak. Jika para pelajar baik, maka dunia pun akan berseri menghadapi masa depan yang tentram, aman, dan penuh kedamaian.
Banyak pelajar ingin sukses dalam kehidupannya, namun keinginannya tidak sesuai dengan usahanya. Jika ditanya tiap pelajar tentang apakah mereka mau sukses di masa depan? Jawabannya bisa dipastikan “ya”, namun apabila di tanya tentang hal apa saja yang telah dilakukannya untuk mencapai kesuksesannya itu? Kebanyakan pelajar menjawab “belajar dengan rajin”. Hal ini jelas tidak benar, untuk sukses tidak bisa hanya mengandalkan belajar saja, namun butuh banyak skill penunjang seperti disiplin, jujur, proaktif, bertanggungjawab, tekun, menghargai waktu, dan masih banyak lagi yang lainnya
Pertanyaan berikutnya yaitu apa saja masalah yang sering dialami pelajar untuk mencapai kesuksesannya? Prayitno, dkk, 2002; Mustika, dan Firdaus, 2006 menyebutkan sejumlah masalah yang sering dialami oleh pelajar yaitu sebagai berikut.
1.    Kesulitan mempersipkan kondisi fisik dan psikis
2.    Tidak mempersiapkan bahan dan materi pelajaran untuk esok hari
3.    Suka membolos sekolah
4.    Sukar atau tidak mau bertanya saat belajar
5.    Tidak mengemukakan pendapat di kelas
6.    Mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar
7.    Banyak mata pelajaran yang tidak disukai
8.    Suka menyia-nyiakan waktu
9.    Suka menyia-nyiakan pelajaran
10.  Suka mencontek tugas teman.
Pendapat pakar tersebut hanya sebagian kecil masalah pelajar yang terungkap, sebenarnya masih banyak lagi masalah lainnya yang belum terungkap. Untuk itu, mari kita lihat kira-kira mengapa pelajar bisa terjangkit masalah tersebut!
1.    Tidak memiliki sasaran hidup yang jelas. Sasaran ini bisa berbentuk: apa yang ingin kita bentuk, apa yang ingin kita raih, apa yang ingin kita miliki dengan kata lain kita harus mempunyai impian. Impian ini bisa sifatnya jangka pendek, menengah dan panjang. Jadi, mulai dari sekarang beranilah untuk bermimpi mumpung gratis.
2.    Filsafat hidup yang negatif. Hal ini bisa di contohkan seperti: “ngapaen belajar rajin-rajin, toh banyak sarjana pengangguran sekarang”, “ngapaen belajar giat, yang rangking satu kan sudah jelas siapa orangnya”, “untuk apa belajar, guru saja tidak ada yang mengaplikasikannya”, dan masih banyak lagi yang lain. Filsafat seperti ini harus di hapus, karena tujuan belajar bukan hanyalah semata untuk menuntut ilmu karena Allah SWT.
3.    Terlalu banyak dan terlalu lama membiarkan pikiran atau perasaan negatif, misalnya: “saya orang bodoh”, “saya tidak akan mampu seperti dia”, “saya orang yang pemalas”, saya orang yang payah”, dan lain sebagainya. Jika pikiran ini ada pada kita, mari kita rubah menjadi pikiran yang positif terhadap diri sendiri karena kita adalah orang-orang pilihan dari Allah SWT.
4.    Tidak mau memilih yang positif. Gagal usaha, gagal, belajar, gagal berkarir, dan lain-lain, memang itu semua bisa memicu kemalasan. Tetapi, seperti yang sudah kita singgung, kemalasan di situ sifatnya hanya sementara. Banyak hal yang kerap membuatnya abadi adalah penolakan untuk segera bangkit. Jika kita menolak membangkitkan diri, semua kemalasan sifatnya akan abadi.
5.    Kurang belajar menggunakan ledakan emosi. Seperti marah, tidak puas, malu, takut, ingin dipuji, dan seterusnya itu adalah termasuk bentuk ledakan emosi. Ini bisa kita gunakan untuk mengusir kemalasan dan bisa pula, kita gunakan untuk menambah kemalasan. Takut akan dimarahi oleh orang tua kalau nilai kita jeblok dapat kita gunakan untuk memacu diri dalam belajar lebih giat lagi. (Tim Paramitra, 2011)
Jadi kita sebagai pelajar, bagaimana cara kita menghadapi permasalahan yang sering menjangkit pelajar? Berikut cara yang bisa dilakukan untuk bisa sembuh dari penyakit yang sering menimpa para pelajar. Berikut ini adalah 7 (tujuh) langkah yang dapat kita lakukan dan kembangkan sendiri yang diadaptasi dari buku Seven Habits of Highly effective People karangan Steven Covey (2004),
1.    Proaktif. Ibarat main bola kaki, jangan mau menunggu bola tapi jemput bola dan bawa ke gawang lawan sampai gol. Begitupun hidup, jangan hanya menunggu kesuksesan datang tapai jemput kesuksesan. Kita harus cepat tanggap, tidak di tunggu di perintah baru bertindak. Namun lakukan sebaliknya, lakukan sesuatu sebelum diperintah.
2.    Miliki tujuan yang jelas. Jika kita ditanya oleh orang lain “Anda mau ke mana?” lalu kita jawab “ke pasar”, kemudian orang tersebut bertanya lagi “mau ngapain?” kemudian kita jawab lagi “ tidak tahu”. Maka, kita sama halnya seperti buih di lautan mudah terombang amabing, karena tidak memiliki tujuan yang jelas. Kita hanya akan melihat diri kita dalam kebingungan menjalani hidup. Untuk itu, mulai dari sekarang, tentukan secara jelas apa tujuan kita, baik itu jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
3.    Tentukan skala prioritas. Kerjakan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Maksudnya, kita harus mampu meimilah dan memilih mana kebutuhan dan mana keinginan, karena ini merupakan dua hal yang berbeda. Buat skala prioritas kita, jangan sampai semua pekerjaan kita terbangkalai dan tidak selesai.
4.    Berpikir “win-win”. Dalam pepatah minang kabau berbunyi “lamak di awak, katuju dek urang”. Maksudnya, setiap kita melakukan sesuatu hendaknya memikirkan orang lain juga, jangan hanya memikirkan perasaan dan keinginan kita saja. Jika hal ini kita aplikasikan, maka dunia akan terasa aman dan damai.
5.    Pahami orang lain, maka orang lain akan memahami kita. Jika kita ingin membicarakan masalah akademis dengan guru kita, misalnya ingin mempertanyakan nilai mata pelajaran matematika atau meminta dispensasi tambahan waktu pengumpulan tugas, disaat kita melihat guru tersebut, ternyata beliau sedang sibuk, coba tempatkan diri kita di posisi guru tersebut. Nah, sekarang coba tanyakan pada diri sendiri, kira-kira apa argumen yang akan keluar dari kita jika kita sedang ada pekerjaan dan siswa ada yang mau konsultasi.
6.    Cari solusi yang lebih baik. Jika kita tidak mengerti bahan yang diajarkan guru pada hari ini, jangan hanya membaca ulang bahan tersebut. Coba cara lainnya. Misalnya, diskusikan bahan tersebut dengan guru, teman, kelompok  belajar atau dengan pembimbing akademis. Mereka akan membantu kita untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.
7.    Tantang diri sendiri. Dengan cara ini, belajar akan terasa mengasyikkan, dan mungkin kita mendapatkan ide-ide yang cemerlang.
Jadi, untuk dapat melaksanakan itu semua dibutuhkan kemauan dari kita sendiri untuk berubah atau memperbaiki diri kearah yang lebih baik lagi dalam mencapai aktualisasi diri.

Referensi
Covey, Steven. 2004. Seven Habits of Highly effective People. USA: Library of Congress

Mustika, M. Shodiq dan Firdaus, Firda. Be a Student Idol. Depok: QultumMedia.

Prayitno, dkk. 2002. Seri Latihan Keterampilan Belajar. Jakarta: Depdiknas.

Tim Paramitra. 2011. Kumpulan Lengkap Materi Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Paramitra Publishing.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan bergabung ke MEMBERS CCI untuk dapat meninggalkan komentar sahabat.Terima Kasih!